Website Resmi
Desa Wologai
Kecamatan Ende, Kabupaten Ende - Nusa Tenggara Timur
Administrator | 11 Februari 2025 | 1.005 Kali dibuka
Artikel
Administrator
11 Februari 2025
1.005 Kali dibuka
Sejarah Desa Wologai
Desa Wologai merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Ende, berbatasan langsung dengan Kecamatan Maukaro dan Kecamatan Ende. Desa ini didirikan pada tahun 1969, dengan kepala desa pertama yang menjabat pada saat itu bernama Robertus Rowa. Pada tahun 1972, di bawah pemerintahan Orde Baru, Desa Wologai resmi ditetapkan sebagai pemerintahan desa yang definitif. Sejak saat itu, Desa Wologai telah dipimpin oleh sebelas kepala desa.
Asal-Usul Masyarakat Wologai
Menurut cerita turun-temurun, nenek moyang masyarakat Wologai adalah seorang tokoh bernama Siga Ria. Ia dipercaya berasal dari Hindia Belaka (Malaka, Sumatra) dan tiba di Pantai Wewaria sebelum akhirnya mengembara hingga ke Keli Lepembusu. Dalam perjalanannya, Siga Ria menghadapi berbagai tantangan alam dan perlawanan dari pihak lain demi memperoleh wilayah kekuasaan.
Ketika tiba di sebuah bukit yang dinamakan Mbotu Manu Kako, Siga Ria melakukan sumpah dengan melepaskan anak panah sebagai penanda tempat tinggalnya. Anak panah tersebut jatuh di sebuah perbukitan yang kemudian dinamakan Wologai, yang bermakna "gagang anak panah yang jatuh di bukit alang-alang". Hingga kini, keberadaan Batu Anak Panah masih dilindungi sebagai bukti sejarah peristiwa tersebut.
Perkampungan kecil yang terbentuk kemudian berkembang menjadi Nua Wologai. Siga Ria menikah dengan seorang perempuan bernama Rembu Rewa dan keturunannya menjadi cikal bakal masyarakat Wologai saat ini. Mereka terbagi dalam lima ambu (kelompok kekerabatan), yaitu Woro, Gusa, Soa, Jobi, dan Monggi, yang bersama-sama membentuk Suku Siga. Secara adat, masyarakat Wologai dipimpin oleh tujuh pemangku adat yang disebut Mosalaki Tanah Siga Ria Watu Rembu Rewa.
Pada masa awal, masyarakat Wologai memenuhi kebutuhan hidup dengan berburu babi hutan, rusa, serta mencari kepiting, udang, dan belut di sungai-sungai. Mereka juga bercocok tanam dengan sistem ladang berpindah, menanam padi gunung seperti Are Kea, Mange', Jomba, dan Taiwawi.
Interaksi dengan Kolonialisme dan Misionaris
Pada masa kolonial, masyarakat Wologai mulai berinteraksi dengan para misionaris Katolik asal Portugal dari Paroki Kumendaru. Para misionaris tersebut menyebarkan ajaran Katolik dengan menunjuk guru agama yang tinggal di tengah masyarakat adat. Karena masyarakat Wologai memiliki budaya berpindah-pindah, pembaptisan sering dilakukan langsung di kebun-kebun mereka.
Saat penjajahan Belanda, banyak masyarakat Wologai yang dipaksa bekerja membangun jalan dan infrastruktur lainnya. Pada tahun 1932, Belanda memasang tapal batas hutan lindung di luar area garapan masyarakat Wologai. Lima orang sakti Wologai—Kea Keku, Rowa Sili, Dhae Kea, Tawa Raja, dan Bhato Pedi (dari Uzu Dero Eko Waru)—melakukan perlawanan dengan menolak membayar upeti. Akibatnya, mereka dibuang ke Nusa Kambangan dan Semarang. Dari kelima orang tersebut, hanya tiga yang kembali setelah menjalani hukuman penjara selama enam tahun, sementara dua lainnya dijatuhi hukuman seumur hidup.
Pada masa pendudukan Jepang, interaksi dengan bangsa asing menyebabkan beberapa leluhur Wologai mampu menyanyikan lagu-lagu dalam bahasa asing.
Perubahan Sistem Pemerintahan
Seiring berjalannya waktu, pengaruh Kerajaan Lio menyebabkan sistem pemerintahan adat di Nua Wologai berubah. Awalnya, kepemimpinan dipegang oleh seorang Mosalaki yang disebut Kofle atau Kepala Kampung, dengan Kea Keku sebagai pemegang jabatan tersebut. Namun, setelah diberlakukannya Undang-Undang Desa pada tahun 1970-an, sistem kepemimpinan berubah menjadi kepala desa. Kepala desa pertama yang menjabat dalam sistem pemerintahan baru ini adalah Robertus Rowa.
Meskipun terjadi perubahan sistem pemerintahan, kelembagaan adat Mosalaki Siga Ria Watu Rembu Rewa tetap bertahan dan masih eksis hingga saat ini.
Konflik dengan Kehutanan dan Perubahan Ekonomi
Pada tahun 1984, pemerintah melalui Inpres Penghijauan menetapkan batas hutan lindung yang beririsan dengan lahan garapan masyarakat Wologai. Hal ini hampir menyebabkan mereka terusir dari pemukiman asal. Namun, dengan berjalannya waktu, pola bercocok tanam masyarakat mulai berubah dari sistem ladang berpindah menjadi sistem berkebun. Mereka mulai mengembangkan komoditas asli seperti kemiri hutan, kenari, enau, kayu manis, pinang, dan kuli lawa, serta tanaman dari luar seperti cengkeh, kopi, vanili, kakao, pala, dan durian.
Pada tahun 1992, gempa bumi mengguncang wilayah Wologai. Meskipun tidak ada korban jiwa, beberapa rumah mengalami kerusakan dan beberapa warga mengalami luka-luka.
Keberlanjutan Adat dan Perjuangan Hak Ulayat
Saat ini, masyarakat Wologai masih memegang teguh adat istiadat mereka. Mereka juga sedang memperjuangkan pengakuan resmi dari negara atas keberadaan mereka serta hak-hak ulayatnya.
Daftar Kepala Desa Wologai
- 1969 - 1972 : Robertus Rowa
- 1972 - 1976 : Pius Raka
- 1976 - 1977 : Geradus Bhada
- 1977 - 1985 : Yoseph Desi
- 1985 - 2002 : Nikolaus Ngaji
- 2002 - 2007 : Yoseph Nai
- 2007 - 2013 : Adrianus Dewa
- 2013 - 2016 : Thomas Jata
- 2016 - 2017 : Dominikus Dua
- 2017 - 2023 : Andreas Ba’u
- 2023 - 2031 : Antonius Wara
Batas Wilayah Desa Wologai
- Utara : Berbatasan dengan Desa Mbotulaka, Kecamatan Wewaria
- Selatan : Berbatasan dengan Desa Nua Ja, Kecamatan Ende
- Timur : Berbatasan dengan Desa Wologai 2, Kecamatan Ende
- Barat : Berbatasan dengan Desa Boafeo, Kecamatan Maukaro
Komentar Facebook
Statistik Desa
Populasi
220
Populasi
206
Populasi
0
Populasi
426
220
LAKI-LAKI
206
PEREMPUAN
0
BELUM MENGISI
426
TOTAL
Aparatur Desa
Kepala Desa
ANTONIUS WARA
Sekretaris
MAKSIMUS JE
Kaur Keuangan
MARGARETA ERNI BUNGA
Kasi Pemerintah
FRANSISKUS RAJA KETA
Kasi Perencanaan
HERMANUS SA
Kaur Umum
MAXIMUS OSKARIUS LAKA
Staff Perangkat Desa
Ambrosius radja waga
Kepala Dusun Kombareke
SALOMON PARERA
Kepala Dusun Wologai
SIMON SIRENE FEKO
Desa Wologai
Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur
Hubungi Perangkat Desa untuk mendapatkan PIN
Masuk
Agenda
Peta Desa
Arsip Artikel
1.191 Kali dibuka
Pemerintah Desa Wajib Publikasikan Penggunaan Dana Desa...
1.005 Kali dibuka
Tentang Desa Wologai...
944 Kali dibuka
Pemerintah Fokuskan Penggunaan Dana Desa untuk Adaptasi Iklim,...
616 Kali dibuka
Angin Kencang Terjang Desa Wologai dan Sekitarnya, Gedung SMP...
534 Kali dibuka
Musyawarah Luar Biasa Desa Wologai Ende: Fokus pada Ketahanan...
02 Desember 2025
Musrenbangdes Desa Wologai Bahas Prioritas Pembangunan Tahun 2026...
13 Juni 2025
Rumah Adat, Pondasi Peradaban Leluhur yang Terus Hidup...
11 Juni 2025
Angin Kencang Terjang Desa Wologai dan Sekitarnya, Gedung SMP...
24 Mei 2025
Pemerintah Desa Wologai Salurkan BLT Dana Desa untuk 30 Warga...
28 Maret 2025
Pemdes Wologai Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Kepala...
Komentar
Statistik Pengunjung
| Hari ini | : | 76 |
| Kemarin | : | 60 |
| Total | : | 30.489 |
| Sistem Operasi | : | Unknown Platform |
| IP Address | : | 216.73.216.107 |
| Browser | : | Mozilla 5.0 |
Jam Kerja
| Hari | Mulai | Selesai |
|---|---|---|
| Jumat | 08:00:00 | 16:00:00 |
| Kamis | 08:00:00 | 16:00:00 |
| Minggu | Libur | |
| Rabu | 08:00:00 | 16:00:00 |
| Sabtu | Libur | |
| Selasa | 08:00:00 | 16:00:00 |
| Senin | 08:00:00 | 16:00:00 |

Kirim Komentar